Muslim Indonesia di Amerika Mengubah Gereja Menjadi Masjid

Arsitektur bangunan itu bercorak khas Amerika. Gerbang depannya memiliki teras dengan empat tiang penyangga tinggi dan besar berwarna putih. Sekilas mirip gerbang Gedung Capitol, tempat Presiden Obama berkantor.  Hanya saja tidak ada kubah atau menara di atasnya. Gedung itu berdiri tegak di lokasi sangat strategis di Georgia Avenue, Silver Spring, MD,  Maryland, tidak jauh dari Kota Washington. Ketika saya berkunjung ke gedung itu,  di depannya masih ada tulisan “First Baptist Church Montgomery” diukir di permukaan semen yang terpajang di halaman depan kiri gedung.

Seorang pekerja lokal terlihat sedang memahat tulisan itu. Sepertinya ia akan menghapus tulisan tersebut. Ketika saya bertanya, ia pun menjawab singkat. “Yes, we want to remove this engraving.”  

Saya sebenarnya ingin bertanya lebih banyak lagi soal penghapusan tulisan itu, tapi ia menolak bercerita. Ia mempersilahkan saya masuk ke dalam gedung,   bertemu seseorang yang memahami masalah gedung itu. Sayapun melangkah ke dalam. 

Begitu pintu saya ketuk, seorang pemuda bertopi lobe membukakan pintu. Wajahnya sangat Indonesia. Saya langsung menyapa, “Assalamualaikum.” 

“Waalaikumsalam,” jawabnya. Ia mempersilahkan saya masuk.  “Silahkan mas. Kalau mau sholat, tempat wudhuknya ada di sebelah sana. Harap maklum Mas, kondisi masih darurat,” ujarnya  dengan logat jawa yang kental.  Saya pun mengambil wudhuk untuk shalat zuhur. 

Usai shalat, saya menyempatkan diri melihat suasana sekeliling gedung. Beberapa pekerja lokal terlihat sedang mengecat dan merubah sejumlah dekorasi di bagian luar dan dalam.  Rasa penasaran memaksa saya kembali  mendekati lelaki bertopi lobe tadi. Maksud hati mau bertanya, tapi belum lagi kalimat terlontar, ia langsung memulai cerita. 

“Ini dulunya gereja, Mas. Tapi  sudah dibeli oleh masyarakat Indonesia untuk dijadikan sebagai masjid. Rencananya akan diresmikan Presiden SBY pada 26 September nanti,” katanya.

Lelaki itu mengaku Rahmad, mahasiswa asal Jawa Barat yang tengah menimba ilmu di Washington. Ia bukanlah pengurus masjid itu, tapi tahu seluk beluk gedung tersebut.  “Saya banyak mendapatkan cerita soal gedung ini dari paman saya yang kebetulan bekerja di Kantor kedutaan Indonesia di Washington,” katanya. Rahmad sendiri mengaku cukup aktif mengikuti kegiatan rohani yang diselenggarakan komunitas muslim Indonesia di Washington yang bergabung dalam IMAAM ( Indonesia Muslim Association of America (IMAAM).

IMAAM merupakan komunitas sosial yang didirikan diaspora muslim Indonesia di Amerika pada 1993. Sejak beridiri, organisasasi ini aktif menggelar kegiatan keagamaan, termasuk berupaya mendirikan masjid di Washington.  Saat ini komunitas IMAAM memiliki anggota sekitar 2000 orang.

Dari sumbangan para anggotanya, pada 1995  IMAAM bisa membeli dua unit rumah di kawasan Veirs Mill Rd, Rockville, Maryland, yang semula akan dijadikan sebagai masjid.  Tapi rencana itu mendapat protes dari masyarakat setempat.

Apa boleh buat, keinginan mendirikan masjid bernuansa Indonesia di Amerika terpaksa ditunda. Marsono, 65 tahun, warga asal Bandung yang telah menetap di Amerika selama 30 tahun, mengaku kalau impian itu sebenarnya sudah ada sejak lama.  “Bahkan sudah ada sejak 20 tahun lalu,” katanya.  Kalau saja masjid itu ada, Marsono yakin warga muslim Indonesia yang tinggal di Amerika pasti lebih menyatu dan kompak, sehingga memudahan untuk melaksanakan kegiatan sosial lainnya.

Namun impian itu belum berhasil karena hambatan dari warga setempat. “Pemerintah Maryland juga tidak memberi izin kalau masyarakat sekitar masih menolak,” tambah Marsono. Akibat penolakan itu, dua gedung yang dibeli di kawasan Rockville hanya bisa dijadikan sebagai IMAAM Center.  Tidak ada aktivitas ibadah di sana. Sementara untuk  sembahyang atau kegiatan ibadah lainnya,  warga muslim Indonesia harus menyebar di sejumlah masjid yang ada di Washington dan sekitarnya.

Kisah berubah tatkala terpampang iklan di sebuah media online yang menyebut soal rencana penjualan sebuah gereja tua di kawasan Georgia Avenue, Silver Spring, MD,  Maryland.  Iklan itu ditayangkan oleh pengurus gereja yang mengaku terpaksa menjual gedung itu karena tidak ada lagi aktivitas ibadah di sana.  Sejak lima tahun terakhir  gereja itu dibiarkan kosong melompong karena sebagian besar jemaahnya tidak lagi percaya dengan agama. Mereka ramai-ramai merubah keyakinannya menjadi ateis.

Ukuran gereja itu cukup besar. Luas gedungnya saja mencapai 3.520 m²,  dengan luas tanahnya mencapai 15.625 m².  Kapasitas ruangan di dalam mampu menampung 350 orang. Lapangan parkirnya juga cukup luas, bisa menampung lebih dari 100 mobil. Harga jualnya $3 juta ( sekitar Rp 33 miliar dengan kurs sekitar Rp 11.000/ dolar). Gedung itu dibangun tahun 1955, berada di tengah kota Maryland. Merujuk kepada izinnya, gedung itu hanya diperuntukkan bagi kegiatan rumah ibadah.

Pihak gereja sebenarnya sudah lama ingin menjual gedung itu, tapi tidak laku karena izin penggunaanyan tidak bisa digunakan selain untuk ibadah.  Ini yang membuat pengurus IMAAM tertarik untuk membelinya. Jika  gedung itu bisa dibeli, maka tidak perlu lagi memohon izin pendirian rumah ibadah dari pemerintah setempat karena sejak awal peruntukannya memang untuk rumah ibadah.

Masalahnya, darimana pengurus IMAAM bisa mendapatkan dana $3 juta? Kalaupun dua unit gedung yang ditempati IMAAM Center dijual, diperkirakan harganya $1 juta. Itu berarti masih kurang sekitar $2 juta lagi. Jelas ini bukan jumlah yang kecil.

Sampai akhirnya munculnya ide dari pengurus IMAAM untuk membicarakan masalah ini dengan Dino Pati Djalal yang ketika itu menjabat sebagai duta Besar Indonesia untuk Amerika.  Dino yang menyambut baik ide itu kemudian menyampaikan kabar ini langsung ke SBY. Tidak sulit bagi Dino untuk berbicara dengan SBY mengingat hubungan keduanya sangat dekat.

Gayung bersambut, Presiden SBY  rupanya sangat tertarik dengan ide itu. Ia pun langsung membahas masalah ini dengan DPR RI. Kebetulan waktu itu masih ada sisa anggaran $5 juta yang belum terpakai.  Rayuan SBY sukses.  Tak butuh waktu lama bagi DPR RI dan Pemerintah untuk menyepakati  pemberian hibah $3 juta untuk IMAAM sebagai modal untuk membeli gereka di Amerika itu. Sedangkan sisanya yang  $2 juta digunakan untuk membangun gedung mahasiswa Indonesia di Mesir.  

Akhirnya sejak Juli 2014 lalu IMAAM resmi mengambil alih First Baptist Church Montgomery Maryland untuk dijadikan sebagai masjid. Hebatnya lagi, mereka bisa membeli masjid itu tanpa menjual dua gedung IMAAM Center yang sudah ada sebelumnya.

Upaya renovasi langsung dilakukan secara bertahap.  Kursi panjang  yang biasa digunakan para jemaah Kristen dalam beribah, dibongkar dan digantikan dengan karpet dari Arab. Para muslim Amerika beramai-ramai urung rembuk mengumpulkan dana bagi renovasi gedung tersebut.  Berbagai kegiatan syiar Islam juga mulai aktif dilakukan di dalamnya. Beberapa tokoh Islam di Washington diundang untuk memberikan ceramah agama di sana.

Awal September ini ketika saya berkunjung ke sana, suasana di dalam gedung itu terlihat sangat asri. Tidak ada tanda -tanda kalau gedung itu bekas gereja.  Kalaupun  ada, paling hanya pentas di bagian depan yang biasa digunakan pendeta atau penyanyi koor gereja untuk tampil di depan jemaahnya. Dekorasi itu memang agak unik untuk dihadirkan di dalam masjid. Tapi pengurus IMAAM berencana akan mengubahnya secara bertahap sehingga nantinya  desain khas masjid itu bernuansa Indonesia.

Hambatan lainnya adalah masalah tempat wudhuk yang masih menggunakan model kamar mandi biasa. Untuk merubah layout kamar mandi itu harus membutuhkan izin dari pemerintah lokal.  Pengurus IMAAM mengaku sudah meminta izin, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda mendapat persetujuan. Meski demikian mereka tetap bertekad akan terus memohon untuk izin perubahan itu, sehingga nantinya fasilitas di gedung itu ideal dikatakan sebagai masjid.

Belum ada nama resmi utuk masjid tersebut. Sementara ini para jemaah hanya menyebutnya sebagai Masjid Indonesia. Nama resminya baru akan diputuskan pada 26 September mendatang langsung oleh Presiden SBY yang khusus datang ke Washington untuk meresmikannnya.[] Laporan dari Washington DC

Related Post

Latest Post


2012 © atjehpost.co